Pagi-pagi anggota dewan ngamuk-ngamuk, katanya presiden
makin tidak jelas. Sumpah serapah keluar dari mulutnya.
DPR 1: “Napa kau sewot begitu, apalagi ini?”
DPR 2: “Ini presiden ini memang tidak tahu diuntung, jengkel aku.”
DPR 1: “ Ah
aku tahu, kau tidak diteleponnya to, maka kau esmosi dan ngomel-ngomel tidak
karuan, begitu, kau pengin jadi menteri, dan ternyata tidak terpakai kan, emang
kau mampu jadi menteri, kalau mampu kau pengin menteri apa coba?”
DPR 2: “Kau
jangan sembarangan memfitnah aku, aku ini semua aku lakukan demi rakyat bukan
seperti politisi lainnya itu, yang hanya pengin doit dan kursi, lihat absen ku
itu selalu penuh, tidak ada satupun aku bolong.”
DPR 1:
Senyum-senyum ia teruskan, ” Iya, emang kau mau jadi menteri apa?”
DPR 2: “Kau
kira aku tidak bisa kerja ya, semua aku mampu, presiden sekalipun aku bisa.”
Dengan nada makin meninggi.
DPR 1: sambil
menahan tawa, dia tanya temannya itu lagi, “Lha kenapa kau sewot itu? Apa yang
kau sewotkan?”
DPR 2:” Itu
presiden membuat menteri untuk desa, Kita juga harus memperjuangkan DPR desa,
harus, aku tidak mau tahu, aku akan menggalang dukungan ke semua fraksi dan
semua anggota dewan yang terhormat.”
DPR 3: “
Sableng kau dengarkan, itu menteri desa dan pembangunan daerah tertinggal,
orang kerjaannya mabuk kau tanggapin......”
DPR:
?1?!!?!?!?!?!?!?!?!!??!??
Tidak ada komentar:
Posting Komentar