Suatu
hari, malaikat mengunjungi Indonesia. Pertama-tama yang didatangi adalah
istana. Namanya saja malaikat, dia tidak mengenal protokoler kenegaraan, dan
tidak ambil pusing penjagaan, dan tiba-tiba telah ada di depan pintu utama.
Malaikat
ini berseru-seru,” Assalamulaikum, spada, kula nuwun, any body home, ada orang
di rumah, punten, “ pokoknya semua salam untuk bertamu diucapkan, tapi tidak
ada satupun yang dijawab. Malaikat berfikir, oh jangan-jangan tuan rumah ada di
rumah atau kediaman pribadi, langsung saja malaikat memejamkan mata dan sudah
ada di depan pintu kediaman pribadi penguasa, dan salam yang sama diucapkan
lagi, “Any body home, assalamualaikum, spada, punten, kula nuwun,” dan
seterusnya kembali keheningan yang diperoleh. Karena jengkel, dia kirim twitter
ke penguasa itu, “Perkenalkan aku malaikat yang mau mengunjungi negaramu, tapi
mengapa tidak kamu sambut sama sekali semua salamku di pintumu Istana dan
Kratonmu kosong.”
Mendapatkan
kicauan begitu, penguasa mengadakan konferensi pers dan membantah dia
menelantarkan tamu, dan dia berada di tempat tidak pernah mengosongkan istana
ataupun kraton kog, tidak mungkin staffnya diam saja kalau ada yang mau
bertamu, protokol, pengawal, sekretaris, jubir, dan semua staff kena semprot
karena kicauan itu. Kali ini ada tanya jawab dalam konpress itu. Kemudian,
malaikat itu menyaru jadi wartawan, dengan keras dia mengatakan, “Penguasa,
tamu itu aku, dan kicauan itu yang mengirim aku, salam itu adalah kiasan, kamu
diam saja kalau ada rakyatmu yang menjerit-jerit mahalnya bahan makanan, ada
pertikaian dan perselisihan kamu cuma cuci tangan dan kamu katakan itu urusan
bawahanmu, kamu diam saja melihat kecurangan dalam banyak hal, pencurian dan
perampokan merajalela, ketidakadilan begitu banyak terjadi, dan kamu diam saja.
Itu yang aku katakan istana dan keratonmu kosong, karena seolah-olah kamu tidak
ada, atau memang kamu tidak ada?” semprot “wartawan” itu dengan sengit.....
Guabrak,
penguasa dan staffnya pingsan berjamaah................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar